GAYA KEPEMIMPINAN COACHING

 

KATA PENGANTAR

 

Assalamualaikum.Wr.Wb.

Puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT Yang Maha Esa karena atas Rahmat dan Karunia-Nyalah, kami selaku penulis Tugas makalah Manajemen Keperawatan  yang berjudul “Gaya kepemimpinan Coaching Keperawatan ”, Alhamdulillah dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Maka dengan terselesainya makalah ini, kami selaku penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih yang sebanyak – banyaknya kepada Dosen pengampu

Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun sehingga dapat digunakan untuk membantu perbaikan mendatang dan atas perhatian dan kerja samanya kami ucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum. Wr. Wb

 

 

 

 

Jombang, 13 Maret 2025

 

penulis

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

BAB I 4

PENDAHULUN.. 4

2.3       1.1 Latar Belakang. 4

2.4       1.2 Rumusan Masalah. 6

2.5       1.3 Tujuan Penulisan. 6

BAB II 7

PEMBAHASAN.. 7

            2.1 Coaching. 7

            2.2 Tujuan Coaching. 8

            2.3 Proses Coaching. 9

            2.4 Teknik Coaching. 12

2.5. Kemampuan melakukan Coaching. 13

            .2.6 Kelemahan Coaching. 14

            2.7 Perbedaan gaya kepemimpinan Coching Nasional dan Internasinal 16

             2.7.1 Jurnal Terkait Gaya Kepemimpinan Coaching. 16

BAB III 17

PENUTUP. 17

            3.1 KESIMPULAN.. 17

              3.2 SARAN.. 18

DAFTAR PUSTAKA.. 19

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Pelayanan kesehatan di rumah sakit merupakan kegiatan praktik keperawatan yang diberikan oleh perawat pada pasien di berbagai tatanan keperawatan sesuai dengan standar praktik keperawatan. Pada umumnya, praktik keperawatan ialah norma ataupun penegasan tentang mutu pekerjaan seorang perawat yang dianggap baik, tepat dan benar yang dirumuskan sebagai pedoman pemberian asuhan keperawatan serta merupakan tolak ukur dalam penilaian penampilan kerja seorang perawat (Nursalam, 2002).

Salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi kerja adalah gaya kepemimpinan. Pengaruh gaya kepeminpinan diduga merupakan faktor yang cukup dominan terhadap tinggi rendahnya motivasi kerja perawat. Gaya kepemimpinan yang dapat mengarahkan, melatih, dapat berpartisipasi, mendelegasikan sebagian wewenang sangat diperlukan untuk mempengaruhi peningkatan motivasi kerja pegawainya,

Proses penilaian kinerja karyawan sering kali kurang berjalan dengan optimal dan tidak jarang dilakukan sekedar sebagai formalitas belaka. Hal ini terjadi antara lain karena para atasan (manajer/supervisor) kurang dibekali dengan keterampilan untuk melakukan bimbingan.

Pengelolaan sumberdaya manusia di bidang kesehatan dikatakan baik apabila pimpinan dan manajemen memiliki kemampuan dalam melakukan pengawasan dan bimbingan serta memberikan perhatian secara penuh terhadap apa yang ditugaskan dan apa yang menjadi tanggung jawab bawahannya, memperbaiki apa yang perlu diperbaiki atas hasil kerja yang telah dilakukan. dengan cara yang lebih profesional. Salah satu metode yang dapat digunakan oleh seorang manajer untuk melakukan bimbingan adalah dengan coaching.

Secara global, coaching dapat digunakan pada berbagai elemen kehidupan diantaranya coaching pada organisasi, coaching pada olahraga, coaching pada kesehatan, coaching pada keuangan dan coaching pada karier1 Program coaching mampu menjadi sarana yang efektif untuk pengembangan kepemimpinan2 Olehnya itu, diperlukan penguatan keterampilan sumber daya manusia dalam hal ini manajer sebagai pimpinan tertinggi organisasi untuk mendukung dalam menerapkan strategi yang ingin dicapai. Program coaching diberikan untuk memberdayak.  

(Lys et al., 2022)

 Coaching banyak digunakan dalam manajemen untuk meningkatkan kemampuan profesional individu-individu dalam rumah sakit atau tempat pelayanan kesehatan. Seseorang yang melakukan coaching disebut coach (fasilitator) dan orang yang dibimbing disebut coachee (peserta). Tujuan yang diperoleh dari coaching pada umumnya untuk meningkatkan kinerja individu itu sendiri. Orang yang melakukan coaching terikat dalam satu kerjasama yang baik dengan coacheenya sehingga melalui proses ini terjalin sebuah kedekatan dan saling pengertian yang lebih mendalam. Coaching dapat dikatakan sebagai suatu metode pembelajaran yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya dalam bidang kesehatan yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas asuhan kesehatan yang diberikan pada pasien.

Berdasarkan penjelasan tentang deskripsi pekerjaan tugas atasan (manajer supervisor) sesuai dengan fungsi-fungsi manajemen maka dapat dikategorikan bahwa salah satu dari fungsi tersebut adalah penggerakan (actuiting) yaitu memberikan bimbingan pada bawahan untuk mencapai standar operasional. Salah satu bentuk model keterampilan atasan dalam melakukan bimbingan dikenal dengan coaching.

2.2.Rumusan Masalah

Bagaimana pengaruh coaching terhadap motivasi kerja perawat di rumah sakit dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan?

2.3Tujuan Penulisan

Tujuan Umum

Meningkatkan motivasi kerja perawat di rumah sakit melalui coaching untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.

Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi pengaruh coaching terhadap motivasi kerja perawat di rumah sakit.

2. Menganalisis hubungan antara coaching dan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit.

3. Mengetahui efektivitas coaching dalam meningkatkan motivasi kerja perawat di rumah sakit.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1  Coaching

Coaching atau pelatihan adalah sebuah proses membimbing. Coaching merupakan bimbingan yang diberikan kepada mahasiswa yang bertujuan untuk mencapai suatu prestasi kerja dimana ada seorang yang mendampingi.

memberikan tantangan, menstimulasi dan membimbing untuk terus berkembang sehingga seseorang bisa mencapai suatu prestasi yang diharapkan. Seseorang yang melakukan coaching disebut coach dan orang yang dicoaching disebut coachee.

Gaya memimpin seseorang dapat mempengaruhi performa kelompok atau orang yang dipimpinnya. Dalam sebuah rumah sakit gaya kepemimpinan kepala ruangan juga berhubungan pada kinerja perawat. Gaya kepemimpinan yang efektif dalam suatu unit kerja akan berpengaruh pada perilaku kerja yang diindikasikan dengan peningkatan kinerja individu.  (Latif et al., 2023)

Coaching merupakan salah satu gaya kepemimpinan yang dapat membuat orang lain tumbuh dan berkembang. Karena melalui proses ini membuat orang lain menemukan kekuatan, kelemahan yang terdapat pada dirinya. secara sadar tanpa tekanan dari orang lain sehingga pada akhirnya dia dapat menentukan target dan cara mencapainya.

Coaching merupakan salah satu pendekatan yang dalam beberapa tahun belakangan ini telah membuktikan keberhasilannya dalam membantu mempercepat transformasi dan pencapaian Goal baik individu, kelompok maupun organisasi. Beberapa pemahaman mengenai Coaching:

1. Coaching adalah suatu bentuk kemitraan dengan klien dalam proses pemikiran    dan kreatifitas yang menginspirasi mereka untuk memaksimalkan potensi mereka baik pribadi maupun profesional (International Coach Federation).

2. Adalah suatu kerjasama kolaboratif berdasarkan solution-focused, results oriented dan systematic process di mana Coach memfasilitasi peningkatan kinerja, pengalaman, kemandirian dan pertumbuhan pribadi sang Coachee/Client (Association for Coaching

3. Coaching adalah aktifitas untuk membantu individu atau kelompok, disebut sebagai klien atau mentee atau Coachee, melalui proses pencapaian Goal atas kebutuhan pribadi atau profesional.

4. Coaching memungkinkan klien baik individu maupun organisasi untuk mencapai potensi terbaik mereka sepenuhnya.

6.Coaching adalah proses yang dirancang dengan memanfaatkan percakapan terfokus untuk menciptakan kondisi untuk meningkatkan pertumbuhan individu, tindakan terarah, dan perbaikan berkelanjutan. Hal ini dirancang untuk membantu klien fokus pada apa yang mereka perlu dilakukan dalam mencapai tujuan mereka.

7. Coaching pada dasarnya adalah tentang membantu orang memunculkan potensi terbaik mereka dengan membantu mereka untuk menemukan hal-hal yang menjadi hambatan mereka dan membantu menemukan cara mereka.

2.2  Tujuan Coaching

Tujuan yang umum diperoleh dari coaching adalah dapat meningkatkan kinerja individu dan organisasi, keseimbangan yang lebih baik antara pekerjaan dengan kehidupan, motivasi yang lebih tinggi, pemahaman diri yang lebih baik, pengambilan keputusan yang lebih baik dan peningkatan pelaksanaan manajemen perubahan.

tujuan coaching:

1. Menstimulan pengembangan keterampilan peserta secara individual

2. Membantu peserta menggunakan pekerjaan sebagai pengalaman pembelajaran dengan bimbingan dan mengembangkan profesional peserta

3. Memberi kesempatan kepada peserta untuk melengkapi pekerjaan yang diberikan fasilitator dan pada saat yang sama mempersiapkan keterampilan

peserta dalam mengambil tanggung jawab dan pekerjaan mendatang

4. Meningkatkan kemampuan kemandirian belajar dari peserta dan mengatasi permasalahan yang dihadapi mereka

Orang yang sedang di coaching atau coachee, akan diarahkan untuk membahas secara terperinci dimulai dari tujuan re-evaluasi pekerjaan saat itu, siapa dan bagaimana keberadaan coachee, apa dan dimana yang menjadi prioritas dan coachee akan diarahkan untuk menyadari untuk membuat satu keputusan tentang masa depan. Dengan bantuan seorang personal coach maka seorang coachee akan semakin mempertajam kehidupan personalnya, dan dia akan lebih efektif di dalam menyelesaikan segala persoalan kehidupannya.

2.3 Proses Coaching

Proses coaching adalah untuk menetapkan dan menjelaskan arah dan tujuan serta untuk mengembangkan rencana-rencana kerja untuk mencapai tujuan. Selain itu dijelaskan juga satu pengertian mengenai hal-hal yang penting dalam kehidupan bahwa kita diberikan kemampuan untuk mengambil dan melaksanakan tanggung jawab yang telah diberikan dan membangun serta melakukan setiap rencana kerja. Secara sederhana proses coaching akan

membantu untuk menciptakan visi yang terbaik dan terbaru yang dimiliki dalam rangka mencapai suatu keberhasilan. Dimana keberhasilan adalah saat kita dapat mencapai tujuan secara kontinyu.

Orang yang sedang di coaching atau coachee, akan diarahkan untuk membahas secara terperinci dimulai dari tujuan evaluasi pekerjaan saat itu, siapa dan bagaimana keberadaan coachee, apa dan dimana yang menjadi prioritas dan coachee akan diarahkan untuk menyadari untuk membuat satu keputusan tentang masa depan. Melalui bantuan seorang personal coach maka seorang coachee akan semakin mempertajam kehidupan personalnya dan dia akan lebih efektif di dalam menyelesaikan segala persoalan kehidupannya.

Proses coaching pada intinya adalah suatu percakapan, dialog antara seorang peserta dengan orang yang membimbing (fasilitator). Penerapan konteks pendekatan hasil (result oriented) yang produktif, seorang coach akan melibatkan si coachee untuk membicarakan sesuatu yang sudah diketahui. Pada kenyataannya seorang coachee suah memiliki semua jawaban terhadap semua pertanyaan. apakah itu sudah ditanyakan atau belum ditanyakan. Dapat disimpulkan bahwa proses coaching juga meningkatkan proses berpikir dari yang dibimbing.

Seorang coach akan membantu coachee di dalam suatu proses pembelajaran. tetapi coach bukanlah seorang guru dan tidak perlu untuk mengetahui bagaimana mengerjakan sesuatu dengan lebih baik daripada yang dikerjakan coachee. Tetapi yang terpenting adalah seorang coach akan lebih mengobservasi mengenai pola, menetapkan tahap-tahap tindakan atau action yang lebih baik yang akan

dikerjakan. Dimana proses ini melibatkan proses pembelajaran melalui berbagai teknik coaching seperti:

1. Mendengarkan

2. Refleksi, menanyakan pertanyaan dan menyediakan informasi

3. Seorang coach akan menolong coachee untuk menjadi seorang yang mampu mengoreksi dirinya sendiri dan membangkitkan diri sendiri. Sehingga dia dapat belajar untuk memperbaiki sikap dan tingkah lakunya, membangkitkan pertanyaan-pertanyaan dan menemukan jawabannya.

Dalam proses coaching, coach melaksanakan hal berikut ini:

1. Menjelaskan keterampilan dan interaksi yang akan dilakukan kepada peserta yang dibimbing

2. Memeragakan keterampilan dengan cara yang sistematis, efektif, dengan menggunakan alat bantu latihan seperti model anatomic atau boneka

3. Mengamati secara saksama simulasi ulang oleh peserta pada tatanan seperti kondisi nyata

Langkah-langkah dalam coaching, yaitu:

1. Sebelum praktik sebaiknya peserta mengadakan pertemuan untuk mereview kegiatan, termasuk langkah-langkah yang perlu mendapat penekanan

2. Coach merencanakan skenario pembelajaran secara rinci dan menyiapkan seluruh instrumen bimbingan termasuk instrumen evaluasi

3. Instrumen evaluasi disampaikan dan dibahas bersama dengan peserta

4. Coach menyiapkan ruangan pelatihan beserta kelengkapannya. Apabila materi

yang akan dilatihkan berupa keterampilan dalam bidang kesehatan maka sarana prasarana pembelajaran disiapkan semirip mungkin dengan keadaan nyata di lapangan

5. Pelajari kemampuan dasar yang telah dimiliki oleh setiap coachee, sehingga Coach dapat memusatkan dan menyesuaikan bimbingan dengan kemampuan yang telah dimiliki agar bimbingan berjalan secara efektif dan efisien

6. Coach merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi proses bimbingan dan memberikan umpan balik sesuai dengan tingkat pencapaian kompetensi setiap peserta

7. Coachee melakukan redemonstrasi, coach mengamati dan memberikan umpan balik saat mereka melakukan langkah-langkah kegiatan. Coachee mencoba kembali tanpa bimbingan, coach memberikan umpan balik dan penguatan

8. Umpan balik harus disampaikan sesegera mungkin dan lebih sering dilakukan pada awal latihan kemudian berkurang secara bertahap sesuai dengan tingkat perkembangan masing-masing peserta. Umpan balik menggunakan penuntun belajar atau check list yang telah disiapkan

9. Setelah coachee dinilai kompeten yaitu dapat melakukan prosedur secara mandiri dengan benar di dalam pembelajaran laboratorium atau simulasi, selanjutnya peserta diberikan kesempatan untuk melakukan prosedur nyata di lahan kepada klien yang sebenarnya dengan pengawasan dan bimbingan. Coach melakukan evaluasi terhadap penampilan atau kinerja peserta

10. Apabila bimbingan berupa manajemen, maka setelah pembelajaran laboratorium maka dilanjutkan pula pada pembimbingan di lapangan misalnya penyusunan SOP, perencanaan pelayanan di ruang perawatan, memimpin rapat koordinasi, melakukan monitoring dan evaluasi, melakukan supervisi kepada staf keperawatan

11. Bimbingan dilakukan sampai coachee dinilai kompeten dalam melaksanakan keterampilan

12. Coach memberikan kesempatan kepada coachee untuk melakukan refleksi dan coach menyampaikan umpan balik dalam melaksanakan praktik

13. Hasil evaluasi penampilan peserta digunakan sebagai salah satu bahan untuk menetapkan tingkat kompetensi atau keberhasilan peserta sesuai dengan standar pelatihan yang telah ditetapkan

2.4  Teknik Coaching

1. Tahap Orientasi

Tahap ini merupakan tahap perkenalan dan tahap pengkondisian agar tercipta suasana yang saling mempercayai.

2. Tahap Klarifikasi

Pada tahap ini dilakukan analisis permasalahan. Masalah yang akan dipecahkan diuraikan sehingga jelas mana permasalahan utama dan juga permasalahan mana yang akan dipecahkan terlebih dahulu.

3. Tahap Pemecahan (Perubahan)

Pada tahap ini coachee dengan bantuan coach berusaha mencari solusi terhadap permasalahan yang dihadapi. Coach berusaha memberikan saran dan alternatif-alternatif. namun coachee sendirilah yang harus mengembangkan solusi permasalahan yang dihadapi.

4. Tahap Penutup

Pada tahap ini dilakukan evaluasi terhadap apa yang telah dicapai coachee dari proses coaching. Hal-hal yang pada tahap pendahuluan disepakati untuk diubah atau diperbaiki akan dinilai apakah tujuan tersebut telah tercapai atau belum.

Teknik yang efektif bisa digunakan untuk mempercepat proses pembelajaran, teknik yang terbaik adalah dengan memiliki koneksi dengan coachee dan dengan teknik yang sederhana seperti mendengarkan. mengajukan pertanyaan, mengklarifikasi dan memberi umpan balik merupakan teknik-teknik dasar utama dalam coaching.

Beberapa cara untuk mengaktifkan teknik coaching seperti:

1. Menjadi Contoh (Lead by Example)

Artinya secara sederhana adalah lakukan apa yang kau katakan. Coach tidak bisa meminta coachee untuk datang tepat waktu, apabila dia sendiri selalu datang terlambat. Orang-orang akan mengikuti instruksi kita atau rekomendasi kita jika kita telah menjadi contoh yang baik.

2. Pendengar yang Aktif (Active Listening)

Orang-orang pada umumnya sangat senang untuk berbicara. Mereka akan membicarakan permasalahan mereka, tentang kehidupan, tentang karir mereka, tentang anak-anak mereka dan mereka akan membicarakan mengenai semua yang ada dalam kehidupan mereka. Seorang coach akan. bisa membangun suatu kepercayaan dengan coachee dengan menjadi seorang pendengar yang aktif yang mau memberikan perhatian pada saat mereka berbicara. Dengan perlakuan ini orang-orang akan merasa dihargai. Namun begitu, harus dipastikan coach tahu mengendalikan pembicaraan-pembicaraan yang tidak relevan sehingga pembicaraan menjadi produktif.

3. Alat-alat Peraga (Visual Aids)

Dapatkah kita mengikuti penjelasan mengenai langkah-langkah yang cukup banyak yang harus dikerjakan dengan hanya mendengarkan instruksi saja? Kalau saya terus terang tidak bisa. Seseorang akan lebih. cepat proses pembelajarannya dengan memberikan penjelasan dengan menggunakan alat-alat peraga yang bisa langsung dilihat seperti ilustrasi, gambar, data-data statistik dan lain sebagainya.

4. Dibuat Sederhana (Keep it Simple)

Pada suatu program coaching, tidak perlu dijelaskan segala hal secara panjang lebar. Untuk mempercepat proses pembelajaran harus digunakan bagian yang sederhana dimana coachee dapat dengan mudah mengerti.

5. Langsung kepada Sasaran (Get Straight to the Point)

Bagian ini sangat membantu pada saat proses coaching dilakukan dengan adanya keterbatasan waktu. Daripada memberikan pendahuluan yang terlalu panjang dan membosankan, lebih baik langsung menuju sasaran sehingga dapat menghemat waktu.

2.5. Kemampuan melakukan Coaching

Kompetensi dalam coaching dapat dibagi dalam 3 kelompok, yaitu:

1. Kompetensi menjaga hubungan

Para coach harus mampu menunjukkan bahwa adanya keterbukaan, jujur dan menghargai orang lain.

2. Menjadi efektif

Para coach harus memiliki kepercayaan diri untuk dapat bekerja dengan para coachee dan memiliki kesadaran diri.

3. Melakukan coaching

Para coach harus mampu berpegang pada metodelogi yang jelas, cakap dalam mengaplikasikan metode serta alat-alat dan teknik-teknik yang relevan serta selalu hadir dalam setiap sesi coaching.

Kemampuan yang harus dimiliki untuk melakukan coaching yaitu sebagai

berikut:

1. Fasilitator harus dapat membimbing secara efektif an sungguh-sungguh kepada setiap peserta

2. Fasilitator dituntut memiliki kemampuan observasi, analisis dan diagnosis. yang tajam terhadap masalah pelatihan atau pembelajaran

3. Fasilitator dituntut memiliki kemampuan dan fleksibilitas yang tinggi terhadap materi yang dilatihkannya

4. Melakukan bimbingan dan komunikasi secara asertif

5. Memiliki daya empati dan peka terhadap kebutuhan peserta

6. Mampu menjadi pendengar yang baik.

7. Terbuka untuk menerima pendapat

F. Keuntungan Coaching

1. Dapat mendorong kemampuan masing-masing individu sesuai dengan minatnya

2. Dapat menilai masing-masing peserta dengan berbagai metode penilaian termasuk observasi

3. Dapat mengikuti lebih dekat setiap perkembangan peserta

4. Coaching lebih pada pendekatan personal dibanding dengan training kelompok

5. Peserta merasa lebih termotivasi dan bertanggung jawab untuk melakukan. keterampilan yang baru dipelajari karena bimbingan berlangsung terus menerus dan personal

2.6  Kelemahan Coaching

1. Pendengar yang buruk

2. Terlalu banyak memberi informasi, instruksi dan solusi

3. Menyalah orang lain

4. Memaksa pendapat

5. Fokus pada masalah

H. Faktor Penghambat Dalam Coaching

Untuk mengadakan suatu coaching tidaklah mudah karena banyak faktor yang harus terlibat. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi adalah kepribadian yaitu kesesuaian dan ketidak sesuaian antara bawahan dan atasan. Yang menjadi hambatan disini adalah:

1. Peran yang kurang jelas

Sering kali terjadi ketidak jelasan apa sesungguhnya yang dilibatkan baik dari segi keterampilan maupun kegiatan.. Disamping itu kurangnya pemahaman tentang siapa yang sesungguhnya bertanggung jawab dalam coaching, apa yang harus dilakukan, kapan dan bagaimana melakukannya. Selain itu terdapat ketidak pastian mengenai seberapa banyak penyuluhan, pengarahan dan dukungan sosio-emosional yang dibutuhan, apakah peserta siap, dan bersedia menerima bantuan

2. Gaya manajemen kurang sesuai

Kepercayaan peserta sering kali dipengaruhi oleh pandangan fasilitator mengenai tabiat atau sifat manusia Besarnya pengawasan atau kebebasan yang diberikan oleh fasilitator kepada peserta sering kali tergantung pada anggapan fasilitator terhadap peserta. Dilain pihak, sikap yang ditunjukkan

oleh peserta sangat tergantung pada harapan dan keinginan mereka, apakah mereka menginginkan fasilitator dengan jiwa kepemimpinan yang kuat, apakah mereka menunjukkan kemandirian, ketergantungan, inisiatif dan kreativitas. Coaching mempertegas hubungan baik yang terjalin antara. fasilitator dan peserta sekaligus perilaku dan harapan kedua belah pihak.

3. Kesulitan dalam kontak pribadi secara langsung

Coaching melibatkan pengarahan dengan kontak langsung, hal ini sering menimbulkan kesulitan bagi fasilitator yang tidak terbiasa melakukan hubungan tatap muka satu lawan satu dengan peserta untuk jangka waktu tertentu. Fasilitator merasa takut bahwa situasi ini akan dapat membongkar kekurangannya, baik yang berkaitan dengan pengetahuan teknis maupun keahlian khususnya

4. Keterampilan komunikasi tidak memadai

Keterampilan komunikasi tulis dan lisan sangat penting dalam situasi coaching. Keberhasilan dan kegagalan fasilitator tergantung pada kemampuan mereka dalam menyampaikan pikiran, perasaan dan kebutuhan. Besar kemungkinan fasilitator juga gagal dan tidak berniat mengungkapkan pengalamannya atau pengetahuan pribadinya yang dapat membantu peserta untuk belajar

5. Kurangnya kesediaan atau kemauan

Seorang peserta harus siap dan bersedia menerima fasilitator. Kedua belah pihak harus menganggap coaching sebagai proses meraih kemajuan dan peningkatan yang bertujuan mengembangkan keterampilan dalam suatu lokasi kerja. Peserta yang menunjukkan sikap kurang kemauan dan bekerja. tidak sebagaimana mestinya dapat menyulitkan dalam proses coaching.

6. Kurangnya motivasi

Sebagai fasilitator akan mempunyai tugas tambahan untuk menciptakan lingkungan bermotivasi bagi peserta Oleh karenanya motivasipun lebih banyak ditumpukan pada keinginan menguasai pengetahuan keterampilan baru dan mendapatkan kesempatan dalam mengambil keputusan.

2.7  Perbedaan gaya kepemimpinan Coching Nasional dan Internasinal

Jurnal Nasional :

Jurnal 1: Efek Program Coaching pada Manajer Keperawatan terhadap Motivasi dan Kepuasan Kerja Staf: Scoping Review

  • Fokus: Jurnal ini membahas efek program coaching pada manajer keperawatan terhadap motivasi dan kepuasan kerja staf.
  • Metode: Menggunakan metode scoping review.
  • Hasil Utama: Program coaching kepada manajer memberikan efek positif terhadap motivasi dan kepuasan kerja staf. Coaching juga mampu memberikan semangat tim, keterikatan pekerjaan, dan membantu membangun kepercayaan diri.

Jurnal 2: Efektivitas Coaching terhadap Kepatuhan Bundle CAUTI pada Petugas dalam Pencegahan CAUTI

  • Fokus: Jurnal ini menganalisis efektivitas coaching dalam meningkatkan kepatuhan petugas terhadap bundle CAUTI (Catheter-Associated Urinary Tract Infections) dalam pencegahan CAUTI.
  • Metode: Menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan Quasy Experiment.
  • Hasil Utama: Coaching efektif dalam meningkatkan kepatuhan petugas dalam penerapan bundle CAUTI.

Perbandingan Singkat:

  • Persamaan: Kedua jurnal meneliti tentang efektivitas coaching dalam konteks kesehatan.
  • Perbedaan:
    • Jurnal 1 fokus pada efek coaching terhadap motivasi dan kepuasan kerja staf, sedangkan Jurnal 2 fokus pada efektivitas coaching terhadap kepatuhan petugas dalam pencegahan CAUTI.
    • Jurnal 1 menggunakan metode scoping review, sedangkan Jurnal 2 menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan Quasy Experiment.
    • Jurnal 1 meneliti efek coaching pada manajer keperawatan, sedangkan Jurnal 2 meneliti efektivitas coaching pada petugas kesehatan secara umum.

Jurnal Internasional :

Jurnal 3: Pengaruh Coaching dan Loyalitas terhadap Kinerja Karyawan Black and Veatch International Company

  • Fokus: Jurnal ini meneliti pengaruh coaching dan loyalitas terhadap kinerja karyawan.
  • Metode: Menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan analisis regresi berganda.
  • Hasil Utama: Coaching dan loyalitas memiliki hubungan positif terhadap kinerja karyawan.

Perbandingan Singkat:

  • Persamaan: Ketiga jurnal mengakui pentingnya coaching dalam berbagai konteks (keperawatan, pencegahan infeksi, dan kinerja karyawan).
  • Perbedaan:
    • Jurnal 1 dan 2 fokus pada konteks kesehatan, sedangkan Jurnal 3 lebih umum pada kinerja karyawan di perusahaan.
    • Metode penelitian bervariasi (scoping review, kuantitatif eksperimental, dan deskriptif kuantitatif).
    • Hasil penelitian menunjukkan efek positif coaching pada motivasi, kepuasan kerja, kepatuhan, dan kinerja karyawan, tetapi dalam konteks yang berbeda.

2.7.1 Jurnal Terkait Gaya Kepemimpinan Coaching

a)      Jurnal Nasional

1.      Jurnal Pertama

Jurnal

Efek Program Coaching pada Manajer Keperawatan terhadap Motivasi dan Kepuasan Kerja Staf

Nama Penulis

1. Abdul Latif

2. Pattola

3. Muhammad Hisyam

Email penulis

1. latif@stikmar.ac.id

2. ola.mjn.83@gmail.com

3. muhammadhisyamsyukri@gmail.com

 

Vol,Nomor dan Tahun.

1 Nomor 1 dan November 2023

Kata Kunci

Scoping riview

 

2.      Jurnal kedua

Jurnal

Efektivitas  Coaching terhadap kepatuhan Bundle Cauti pada petugas dalam pencegahan Cauti

Nama Penulis

1. Linawati Neny Yunitasari

2.  Tri Ismu Pujiyanto

Email penulis

linawatineny1@gmail.com

Vol,Nomor dan Tahun.

Volume 6 no 2 dan September 2024

Kata Kunci

Coaching, Kepatuhan, Bundle CAUTI

 

b)     Jurnal Internasional

1.Jurnal pertama

Jurnal

Pengaruh Coaching Dan Loyalitas Terhadap Kinerja Karyawan  Black And Veatch International Company

Nama Penulis

1. Atik sekianti

2. rini yulia

Email penulis

1. Atiksekianti77@gmail.com

2. riniyulias@gmail.com

Vol,Nomor dan Tahun.

Vol 4, No 1 dan mei 2024

Kata Kunci

Coaching Dan Loyalitas, Kinerja Karyawan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1  KESIMPULAN

Dalam bidang kesehatan coaching merupakan alternatif untuk konseling.Program coaching kepada manajer merupakan metode pengembangan yang bermanfaat. Coaching akan berhasil jika adanya proses yang baik dibangun antara coach dan coachee. Olehnya itu proses coaching membutuhkan strategi dari coach dan peran organisasi dianggap penting dalam pengembangan coaching dari manajer kepada staf. Manfaat yang dapat dilihat dari penerapan program coaching adalah adanya peningkatan motivasi dan kepuasan kerja. Selain itu, mampu memberikan semangat tim dan keterikatan pekerjaan serta dapat membantu orang lain dalam membangun kepercayaan diri mereka. Melalui program coaching mampu menciptakan budaya yang saling mendukung, meningkatkan komunikasi dan dapat menjadi sarana yang efektif untuk pengembangan kepemimpinan.

Coaching merupakan proses untuk mencapai suatu prestasi kerja dimana ada seorang yang mendampingi, memberikan tantangan, menstimulasi dan membimbing untuk terus berkembang sehingga seseorang bisa mencapai suatu prestasi yang diharapkan. Seseorang yang melakukan coaching disebut coach dan orang yang dicoaching disebut coachee.

Proses coaching akan sangat menolong seseorang untuk mengaktualisasikan dirinya, yaitu untuk mencapai satu titik dimana dia tidak hanya dapat mengetahui keberadaannya saat itu tetapi juga mengetahui potensi kemampuan yang seharusnya dapat dicapai. Orang yang melakukan coaching terikat dalam satu kerjasama yang baik dengan coacheenya sehingga melalui proses ini terjalin satu kedekatan dan saling pengertian yang lebih mendalam.

Tujuannya adalah dapat meningkatkan kinerja individu dan organisasi, keseimbangan yang lebih baik antara pekerjaan dengan kehidupan, motivasi yang lebih tinggi, pemahaman diri yang lebih baik, pengambilan keputusan yang lebih baik dan peningkatan pelaksanaan manajemen perubahan.

Coaching dan mentoring itu berbeda, seorang mentor mempunyai pengalaman dan pengetahuan di bidang khusus, dimana kemudian bertindak sebagai penasihat, konselor, pemandu, pembimbing, tutor ataupun guru.

Hal ini berbeda dengan peran coach yang tidak memberikan nasihat, tetapi

lebih kepada membantu coachee untuk menemukan pengetahuan dan keterampilan yang ada dalam dirinya, kemudian memfasilitasi coachee untuk dapat menjadi penasihat bagi dirinya sendiri. Teknik yang efektif bisa digunakan untuk mempercepat proses pembelajaran, teknik yang terbaik adalah dengan memiliki koneksi dengan coachee dan dengan teknik yang sederhana seperti mendengarkan, mengajukan pertanyaan, mengklarifikasi dan memberi umpan balik merupakan teknik-teknik dasar utama dalam coaching.

Keuntungan coaching adalah dapat mendorong kemampuan masing-masing individu sesuai dengan minatnya, menilai masing-masing peserta dengan berbagai metode penilaian termasuk observasi, mengikuti lebih dekat setiap perkembangan peserta, coaching lebih pada pendekatan personal dibanding dengan training kelompok, peserta merasa lebih termotivasi dan bertanggung jawab untuk melakukan keterampilan yang baru dipelajari karena bimbingan berlangsung terus menerus dan personal.

3.2  SARAN

Rumah sakit sebaiknya mempertimbangkan untuk mengimplementasikan program coaching sebagai bagian dari pengembangan karyawan. Perawat yang telah mengikuti program coaching sebaiknya diberikan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan dan pengetahuan yang telah dipelajari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

(Latif et al., 2023)Latif, A., Pattola, P., & Hisyam, M. (2023). Efek Program Coaching pada Manajer Keperawatan terhadap Motivasi dan Kepuasan Kerja Staf: Scoping Review. Health Community Service, 1(1), 11–17. https://doi.org/10.47709/hcs.v1i1.3132

Lys, M., Hutasoit, C., Leo Bunga, A., Aima3, H., & Anggraini, D. (2022). Pengaruh Implementasi Pelatihan Coaching (Bimbingan) Kepala Ruang Terhadap Kinerja Perawat Pelaksana  Di RS X Tangerang. Jurnal Kesehatan, 11(2), 75–84. https://doi.org/10.37048/kesehatan.v11i2.408

Yunitasari, L. N., Pujiyanto, T. I., Sakit, R., Pusat, U., & Kariadi, D. (n.d.). Efektivitas Coaching terhadap Kepatuhan Bundle Cauti pada Petugas dalam Pencegahan Cauti. 6(2), 241–248.

(Yunitasari et al., n.d.)Latif, A., Pattola, P., & Hisyam, M. (2023). Efek Program Coaching pada Manajer Keperawatan terhadap Motivasi dan Kepuasan Kerja Staf: Scoping Review. Health Community Service, 1(1), 11–17. https://doi.org/10.47709/hcs.v1i1.3132

Lys, M., Hutasoit, C., Leo Bunga, A., Aima3, H., & Anggraini, D. (2022). Pengaruh Implementasi Pelatihan Coaching (Bimbingan) Kepala Ruang Terhadap Kinerja Perawat Pelaksana  Di RS X Tangerang. Jurnal Kesehatan, 11(2), 75–84. https://doi.org/10.37048/kesehatan.v11i2.408

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini